Yang Dibahas
- 1. Paradoks Kesepian: Merasa Terisolasi di Generasi yang Super Terkoneksi
- 2. FOMO Akhir Tahun dan Stres Psikologis Saat Musim Liburan
- 3. Analisis Neurosains tentang Algoritma: Cara Dunia Digital Membentuk Ulang Korteks Prefrontal
- 4. Ancaman Baru di 2025: Generasi Alpha, Paparan AI, dan Bias Algoritma
- 5. Problematic Social Media Use (PSMU): Data Kesehatan Publik Global
- 6. Penggunaan Aktif vs. Pasif: Bedanya Dampak ke Psikologis
- 7. Strategi Pendampingan Keluarga: Dari Membatasi ke Memberdayakan
- 8. Langkah Praktis: Audit Digital dan Reset Algoritma
- 9. Penutup: Membangun Ketahanan Digital di Tengah Ketidakpastian
- 10. FAQ: Anak Muda & Media Sosial
Menjelang akhir 2025 dan menyambut 2026, dunia media sosial global lagi berubah besar-besaran, dan dampaknya terasa banget buat anak muda. Buat banyak remaja yang menghadapi banyak tantangan sekaligus—mulai dari perubahan iklim, ketegangan geopolitik, perkembangan AI, sampai ketidakpastian ekonomi—dunia digital sudah jadi ruang penting untuk bertumbuh, membentuk identitas, dan tetap terhubung secara sosial.
Riset terbaru menunjukkan bahwa hubungan remaja dengan media sosial itu kompleks: ada tantangan, tapi juga ada peluang. Laporan ini merangkum insight penting dari neurosains, psikologi, dan sosiologi sepanjang 2024 dan 2025 untuk membahas isu-isu utama seperti paradoks kesepian, meningkatnya Fear of Missing Out (FOMO) saat refleksi akhir tahun, dampak algoritma terhadap perkembangan otak, serta perlunya cara baru memahami literasi digital di era AI generatif. Tujuan kami adalah membantu keluarga punya kerangka yang lebih hangat, berbasis sains, dan mudah dipakai untuk ngobrol secara bermakna di momen reflektif ini—supaya kita bisa mendukung anak muda saat mereka menavigasi dunia digital yang makin kompleks, bareng-bareng.
Paradoks Kesepian: Merasa Terisolasi di Generasi yang Super Terkoneksi
Realitas Digital 2025
Laporan Mendalam: Media Sosial & Kesehatan Mental Anak Muda
80%
Gen Z merasa kesepian dalam 12 bulan terakhir
Sumber: GWI Nov 2024
70%
Pengguna yang mengalami FOMO parah
Konten liburan, traveling, dan pesta jadi pemicu utama rasa cemas saat musim akhir tahun.
Sumber: Shapo.io 2025
🧠 Gimana Algoritma Membentuk Ulang Otak?
PFC Lebih Cepat Menipis
Stimulasi digital yang tinggi bisa mempercepat ritme alami pematangan otak.
Loop Dopamin Jadi Lebih Sensitif
Desain reward yang berubah-ubah, seperti like dan scroll, bisa memperkuat perilaku impulsif.
Kerangka 5P
Tujuan
🎯
Biaya
💸
Pola
📉
Privasi
🔒
Orang
👥
Paradoks Kesepian: Isolasi Psikologis di Generasi yang Super Terhubung
Menjelang akhir 2024, konsep Paradoks Kesepian mulai jadi salah satu cara utama untuk memahami realitas hidup Generasi Z dan Generasi Alpha. Walau punya tingkat keterhubungan digital tertinggi dalam sejarah manusia, generasi ini mengalami rasa kesepian di level yang sangat tinggi dan mengkhawatirkan.
FOMO Akhir Tahun dan Stres Psikologis Saat Musim Liburan
Menurut studi global yang dirilis pada November 2024, dengan survei terhadap 1,821 anggota Generasi Z, 80% melaporkan pernah merasa kesepian dalam 12 bulan terakhir—dibandingkan hanya 45% di kalangan Baby Boomers. Yang menarik, hanya 15% responden Gen Z yang melaporkan tidak pernah merasa kesepian selama periode tersebut.
Fenomena ini bukan cuma soal perasaan subjektif; ini juga menunjukkan batasan fungsional dari komunikasi lewat komputer atau perangkat digital (computer-mediated communication/CMC) ketika komunikasi itu menggantikan interaksi tatap muka.
| Generasi | Merasa Kesepian dalam Setahun Terakhir | Tidak Pernah Merasa Kesepian | Pemicu Utama | Sumber Data |
| Gen Z (1997–2012) | 80% | 15% | Rasa percaya diri rendah (28%), status lajang (24%), kecemasan sosial (24%) | GWI Nov 2024 |
| Baby Boomers | 45% | 54% | Perubahan peran hidup | GWI Nov 2024 |
Riset mengaitkan rasa kesepian yang makin intens dengan budaya pamer momen terbaik. Konten yang sangat dipoles, terkurasi, dan budaya influencer mendorong orang untuk terus membandingkan diri dengan mereka yang terlihat “lebih”, yang bisa bikin rasa percaya diri menurun. Di kalangan remaja laki-laki, kesepian sering lebih disembunyikan: 31% responden laki-laki mengaitkan kesepian dengan status lajang, dibandingkan 17% responden perempuan.
Internet Paradox dan Media Displacement Theory
Para akademisi menjelaskan fenomena ini lewat Internet Paradox: walaupun teknologi digital mengurangi hambatan fisik untuk berkomunikasi, penggunaannya untuk hal-hal yang tidak sosial (seperti hiburan sendirian) bisa sangat mengurangi keterlibatan sosial di dunia nyata.
Sebuah meta-analisis tahun 2025 terhadap 26 studi dengan 24,798 peserta mengonfirmasi adanya hubungan dua arah antara kesepian dan problematic media use (PMU). Menurut Media Displacement Theory, konsumsi digital bisa menggeser kebiasaan sosial offline. Platform sosial memang cukup efektif untuk menjaga ikatan yang tidak terlalu dekat, tapi jauh kurang efektif untuk membangun atau mempertahankan ikatan yang dekat dan kuat.
Data longitudinal dari 2025 menunjukkan bahwa remaja yang merasa lebih kesepian cenderung meningkatkan penggunaan media sosial untuk mengatur emosi. Namun, bentuk kompensasi digital ini, karena tidak punya timbal balik emosional yang dalam, sering kali justru memperparah rasa kesepian dan menciptakan lingkaran umpan balik negatif yang tertutup.
FOMO Akhir Tahun dan Stres Psikologis Saat Musim Liburan
Menjelang musim liburan 2025, Fear of Missing Out (FOMO) di media sosial mencapai puncak tahunannya.
Problematic Social Media Use (PSMU): Data Kesehatan Publik Global
Studi terbaru pada 2025 menunjukkan bahwa 50–70% pengguna media sosial mengalami FOMO, dengan Gen Z dan Milenial sebagai kelompok yang paling terdampak. Di periode akhir tahun, konten yang paling sering ditonjolkan adalah perjalanan (59%), pesta (56%), dan hadiah atau barang materi (29%).
Bagi remaja yang tidak bisa ikut dalam “ritual liburan yang dianggap standar” karena keterbatasan finansial, konflik keluarga, atau tinggal di lokasi yang terpencil, setiap postingan yang didorong algoritma bisa terasa seperti penyangkalan terhadap identitas sosial mereka.
| Pemicu FOMO | Paparan Pengguna | Dampak Psikologis | Sumber Data |
| Travel & liburan | 59% | Merasa tersisih secara geografis, cemas | Shapo.io 2025 |
| Acara sosial & pesta | 56% | Merasa terpinggirkan secara sosial, depresi | Shapo.io 2025 |
| Unboxing hadiah & pamer barang | 29% | Stres finansial, belanja impulsif | Shapo.io 2025 |
FOMO yang Dikomersialkan dan Konsumsi Emosional
Selain tekanan sosial, riset 2025 menunjukkan FOMO sudah tertanam banget dalam strategi marketing digital. 69% Gen Z mengaku sering kebablasan belanja supaya tidak FOMO, dan 40% mengaku melakukan pembelian yang sebenarnya tidak perlu hanya demi “ngikutin teman.”
Secara neurologis, ini dipicu oleh aktivasi berlebihan pada ekspektasi mendapat reward, yang bisa mendorong remaja masuk ke siklus belanja impulsif, kepuasan sesaat, lalu cemas setelah membeli.
Analisis Neurosains soal Algoritma: Cara Dunia Digital Membentuk Ulang Prefrontal Cortex
Masa remaja (usia 10–25 tahun) adalah fase penting untuk perkembangan otak, terutama karena ada “ketidaksinkronan” perkembangan antara prefrontal cortex (PFC)—bagian yang membantu kita mengambil keputusan dan mengontrol impuls—dan sistem reward limbik.
Desain Persuasif dan Loop Dopamin
Platform media sosial memakai desain persuasif dengan pola reward yang berubah-ubah, mirip cara kerja mesin slot. Studi fMRI yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan bahwa remaja yang terbiasa mengecek media sosial mengalami perubahan struktural dan fungsional di area otak yang berkaitan dengan reward dan hukuman sosial.
Amygdala, yang berperan dalam emosi dan rasa takut, menunjukkan reaksi yang lebih kuat terhadap feedback sosial (seperti likes atau diabaikan). Sementara itu, dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC)—bagian penting untuk berpikir logis—menjadi kurang sensitif saat terus-menerus terdistraksi oleh dunia digital. Kombinasi ini membantu menjelaskan kenapa remaja sering susah menahan dorongan untuk scroll tanpa henti.
Penipisan Korteks yang Lebih Cepat: Bukti Empiris
Sebuah studi otak longitudinal pada 2024 menunjukkan bahwa remaja dengan penggunaan media sosial yang tinggi mengalami penipisan lebih cepat pada korteks prefrontal lateral dan medial.
| Area Otak | Fungsi | Efek yang Terlihat | Sumber Data |
| Medial PFC | Pemrosesan yang berkaitan dengan diri sendiri | Ketebalan berkurang, sensitivitas berubah | JAMA Paediatrics 2025 |
| Lateral PFC | Kontrol kognitif | Penipisan lebih cepat | PMC 2024 |
| TPJ | Empati, memahami sudut pandang orang lain | Konektivitas melemah | Neuroscience Review 2025 |
Walau penipisan korteks adalah bagian dari proses tumbuh kembang yang normal, penipisan yang lebih cepat secara klinis dikaitkan dengan depresi, kecemasan, dan kesulitan mengatur emosi. Para peneliti menggambarkan konsumsi video pendek (misalnya, TikTok) sebagai hal yang punya dasar neurologis untuk “brain rot,” yang mencerminkan menurunnya kemampuan untuk fokus dalam waktu lama.
Ancaman yang Mulai Muncul di 2025: Generasi Alpha, AI yang Makin Ada di Mana-mana, dan Bias Algoritma
Saat Generasi Alpha (lahir 2010–2024) mulai masuk usia remaja, mereka menghadapi lingkungan yang didominasi AI generatif dan algoritma yang sangat dipersonalisasi.
Generasi Alpha sebagai Digital Native Level Ekstrem
Pada 2025, Generasi Alpha diproyeksikan mencapai 2 miliar orang, menjadikannya generasi terbesar dalam sejarah. Para “screenagers” ini sudah hidup berdampingan dengan tablet dan asisten AI sejak lahir.
Riset menunjukkan 42% pelajar sekarang belajar skill lewat TikTok—lebih banyak daripada yang belajar dari orang tua (39%). Algoritma bukan cuma memilihkan hiburan, tapi juga membentuk cara mereka memahami informasi dan menentukan apa yang dianggap benar.
Literasi AI dan Kemampuan Mengenali Bias Algoritma
American Psychological Association (APA) menekankan literasi AI sebagai salah satu kemampuan inti untuk kesehatan mental pada 2025. Remaja lebih mungkin daripada orang dewasa untuk mengira empati yang disimulasikan AI sebagai koneksi emosional yang benar-benar tulus, yang bisa melemahkan kemampuan menjalin relasi di dunia nyata.
| Dimensi Literasi AI | Risiko | Fokus Edukasi |
| Mendeteksi keaslian | Bingung membedakan deepfake | Mengenali jejak atau ciri konten buatan AI |
| Sadar bias | Output yang diskriminatif | Memahami data pelatihan |
| Mengenali persuasi | Niat komersial yang tersembunyi | Mengenali motif marketing |
APA memperingatkan bahwa konten buatan AI bisa terasa netral padahal belum tentu, sehingga konsep literasi digital sebagai kedaulatan berpikir perlu diperluas.
Problematic Social Media Use (PSMU): Data Kesehatan Publik Global
Data WHO yang dirilis pada September 2024 menunjukkan bahwa penggunaan media sosial bermasalah di kalangan remaja naik dari 7% (2018) menjadi 11% (2022) di 44 negara. Temuan utamanya antara lain:
- Angkanya lebih tinggi pada remaja perempuan (13%) dibanding remaja laki-laki (9%)
- 36% terus terhubung online sepanjang waktu, naik menjadi 44% pada anak perempuan usia 15 tahun
- 39% menunda tidur 1–2 jam karena penggunaan media sosial
Penggunaan Aktif vs. Pasif: Bedanya untuk Psikologis
Riset berulang kali menunjukkan bahwa dampaknya sangat bergantung pada cara media sosial digunakan.
Penggunaan Aktif vs. Pasif: Bedanya untuk Psikologis
Menurut Black Dog Institute (2024), 82% remaja memakai media sosial untuk berkomunikasi dengan teman yang juga mereka temui langsung. Penggunaan aktif—chat, bikin konten bareng, mencari info kesehatan—dikaitkan dengan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah.
Scrolling Pasif: Jalur yang Bisa Merugikan
Sebaliknya, scrolling pasif punya korelasi kuat dengan insomnia, gangguan makan, dan gejala depresi. Riset longitudinal memperkenalkan konsep siklus umpan balik kesepian: meski penggunaan aktif bisa memberi rasa lega dalam jangka pendek, itu tetap tidak bisa menggantikan ikatan yang dimediasi oksitosin dari interaksi tatap muka.
Strategi Mediasi Keluarga: Dari Membatasi ke Memberdayakan
Pengawasan yang terlalu membatasi berkaitan dengan penggunaan digital bermasalah yang lebih serius, sekaligus bisa mengikis rasa percaya dan kemandirian. Riset mendukung mediasi aktif, yaitu melihat orang tua sebagai korteks prefrontal eksternal bagi remaja.
Kerangka Literasi Digital 5P
- Purpose – Tool ini sebenarnya dibuat untuk memberi apa?
- Price – Apa yang harus kita korbankan?
- Patterns – Kapan dan kenapa ini dipakai?
- Privacy – Data kita pergi ke mana?
- People – Dampaknya ke pertemanan dan koneksi di dunia nyata seperti apa?
Langkah Praktis: Audit Digital dan Reset Algoritma
Strategi Reset Algoritma (Edisi 2025)
- TikTok: Pengaturan → Preferensi Konten → Segarkan FYP
- Filter kata kunci buat memblokir topik yang bikin cemas
- Instagram: Reset rekomendasi, lalu sengaja latih algoritmanya selama 15 menit pertama
Audit Jejak Digital Akhir Tahun
| Dimensi | Langkah | Hasil |
| Cari diri sendiri | Google nama & foto yang ditag | Hapus jejak yang merugikan |
| Izin akses | Cek ulang akses aplikasi | Kurangi distraksi & kebocoran data |
| Daftar following | Unfollow akun yang memicu banding-bandingin diri | FOMO berkurang |
| Jaga waktu tidur | Jam malam digital | Ritme sirkadian lebih baik |
Penutup: Membangun Ketangguhan Digital di Masa yang Serba Tidak Pasti
Temuan terbaru dari 2024–2025 menunjukkan satu hal penting: tantangan utama bagi kesehatan mental remaja bukan datang dari teknologinya itu sendiri, tetapi dari tarik-menarik antara fitur desain yang bikin betah terus dan sensitivitas alami anak muda yang sedang tumbuh.
Sebagai orang dewasa yang peduli, fokus kita sebaiknya tidak berhenti di membatasi screen time saja, tapi juga membantu mereka memahami cara memakai teknologi dengan lebih sehat dan bermanfaat. Remaja butuh dukungan untuk menghadapi dunia digital yang rumit ini—yang benar-benar mereka butuhkan adalah arahan, bukan sekadar larangan. Dengan mengajak mereka memahami algoritma, lebih peka terhadap bias AI, dan mendorong mereka memilih sendiri pengalaman online yang baik untuk mereka, kita bisa membantu mereka membangun ketangguhan yang mereka perlukan untuk berkembang.
Saat kita ngobrol di akhir tahun, mari lihat percakapan ini bukan sebagai negosiasi soal gadget, tapi sebagai kesempatan untuk membuat anak muda merasa lebih mampu dan percaya diri. Obrolan seperti ini bisa menjadi pelajaran penting tentang menjaga kemandirian berpikir dan merawat kesejahteraan psikologis mereka di dunia digital yang terus berubah. Tujuan akhirnya adalah kehidupan nyata yang lebih kuat daripada feed yang sudah dikurasi—membangun rasa aman secara emosional dari pengalaman yang benar-benar dijalani, bukan dari ilusi yang dibentuk algoritma.
FAQ: Anak Muda & Media Sosial
FAQ: Media Sosial Remaja & Kesehatan Mental
Jawaban singkat buat orang tua (dan remaja) yang pengin tahu faktanya, bukan panik-paniknya. Ramah Gen Z
1 Kenapa remaja merasa makin kesepian di 2024 dan 2025?
2 Bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental Gen Z saat musim liburan?
3 Apa bedanya penggunaan media sosial aktif dan pasif?
4 Apa tanda-tanda penggunaan media sosial yang mulai bermasalah pada remaja?
5 Gimana orang tua bisa mulai ngobrol soal keamanan di aplikasi sosial?
6 Apa itu “Digital Sunset” dan kenapa penting?
7 Lebih baik memblokir aplikasi sosial atau ngajarin literasi digital?
8 Apakah algoritma media sosial ikut bikin remaja merasa kesepian?
9 Seberapa besar peran orang tua bisa mengurangi risiko kesehatan mental di dunia digital?
10 Apa saja sumber paling tepercaya untuk saran digital parenting di 2025?
Referensi Kami (Sitasi APA)
1. Achterberg, M., Becht, A., van der Cruijsen, R., van de Groep, I. H., Spaans, J. P., Klapwijk, E., & Crone, E. A. (2022). Longitudinal associations between social media use, mental well-being and structural brain development across adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 54, 101088.https://doi.org/10.1016/j.dcn.2022.101088PMC
2. American Psychological Association. (tanpa tanggal). AI literacy: Why every teen needs to learn this essential skill. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.apa.org/topics/artificial-intelligence-machine-learning/ai-literacy-teens
3. American Psychological Association. (tanpa tanggal). Health advisory: Artificial intelligence and adolescent well-being. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.apa.org/topics/artificial-intelligence-machine-learning/health-advisory-ai-adolescent-well-being
4. Artist Push. (tanpa tanggal). How to reset your TikTok algorithm in 2025. Diakses 29 Desember 2025, dari https://artistpush.me/blogs/news/reset-tiktok-algorithm
5. Baylor University. (2025). Social media’s double-edged sword: Study links both active and passive use to rising loneliness. Diakses 29 Desember 2025, dari https://news.web.baylor.edu/news/story/2025/social-medias-double-edged-sword-study-links-both-active-and-passive-use-rising
6. Black Dog Institute. (2024). Adolescent screen use and mental health (Laporan). Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.blackdoginstitute.org.au/wp-content/uploads/2024/08/Teens-Screens_Report-2024_WEB.pdf
7. ContentGrip. (tanpa tanggal). Understanding Gen Alpha’s impact on marketing and media. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.contentgrip.com/generation-alpha-marketing-impact/
8. Fam, J. Y., & Männikkö, N. (2025). Loneliness and problematic media use: Meta-analysis of longitudinal studies. Journal of Medical Internet Research, 27, e60410.https://www.jmir.org/2025/1/e60410JMIR
9. GWI. (tanpa tanggal). Understanding Gen Z’s loneliness epidemic. Diakses 29 Desember 2025, darihttps://www.gwi.com/blog/gen-z-loneliness
10. HBSC. (tanpa tanggal). New WHO/HBSC report sheds light on adolescent digital behaviours across Europe, Central Asia and Canada. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.hbsc.org/new-who-hbsc-report-sheds-light-on-adolescent-digital-behaviours-across-europe-central-asia-and-canada/
11. Health Matters (NewYork-Presbyterian). (tanpa tanggal). How social media use affects adolescent brain development. Diakses 29 Desember 2025, darihttps://healthmatters.nyp.org/how-social-media-use-affects-adolescent-brain-development/
12. Li, S. H., Corkish, B., & Werner-Seidler, A. (2025). Browse or broadcast? The influence of active and passive social media use on mood. Cognition and Emotion, 39(6), 1329–1339. https://doi.org/10.1080/02699931.2024.2439435PubMed
13. Lifestyle Monitor (Cotton Incorporated). (tanpa tanggal). Here’s what to know about Gen Alpha: Today’s youngest shoppers. Diakses 29 Desember 2025, darihttps://lifestylemonitor.cottoninc.com/heres-what-to-know-about-gen-alpha-todays-youngest-shoppers/1
14. Metricool. (tanpa tanggal). TikTok algorithm guide: How to change or reset your FYP. Diakses 29 Desember 2025, darihttps://metricool.com/tiktok-algorithm/
15. Niche. (tanpa tanggal). Fall checklist for freshmen: Smart steps to start your college journey now. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.niche.com/blog/fall-checklist-for-freshmen-smart-steps-to-start-your-college-journey-now/
16. Outfy. (t.t.). How to reset the Instagram algorithm in 2025. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.outfy.com/blog/how-to-reset-instagram-algorithm/
17. ResearchGate. (t.t.). Perceptions of Generation Alpha [PDF]. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.researchgate.net/profile/Mark-Mccrindle/publication/392840457_Perceptions_of_Generation_Alpha/links/6854f70b93040b17338c2b47/Perceptions-of-Generation-Alpha.pdf
18. ResearchGate. (t.t.). The impact of social media on the adolescent brain: Cognitive, emotional, and societal implications. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/399106548_The_Impact_of_Social_Media_on_the_Adolescent_Brain_Cognitive_Emotional_and_Societal_Implications
19. ScholarWorks@UARK. (t.t.). Difference between the impact of active social media use and passive social media use on adolescent mental health [Tesis/Disertasi]. Diakses 29 Desember 2025, dari https://scholarworks.uark.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1216&context=nursuht
20. Scribd. (t.t.). Digital Wellbeing [Dokumen]. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.scribd.com/document/877318565/Digital-Wellbeing
21. Shapo. (2025). 20+ FOMO statistics for 2025 you need to know. Diakses 29 Desember 2025, dari https://shapo.io/blog/fomo-statistics/
22. Socially in. (t.t.). How to reset TikTok algorithm & fix your FYP in 2025. Diakses 29 Desember 2025, dari https://sociallyin.com/resources/how-to-reset-tiktok-algorithm/
23. South Denver Therapy. (t.t.). Social media and mental health statistics 2025: The data every parent should see. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.southdenvertherapy.com/blog/social-media-mental-health-statistics
24. Taylor & Francis Online. (t.t.). The role of parental mediation strategies and online behaviour on internet addiction in young Indonesian children: A parent survey study. Diakses 29 Desember 2025, darihttps://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/0144929X.2025.2578709
25. WordStream. (t.t.). How the TikTok algorithm works in 2025 (+9 ways to go viral). Diakses 29 Desember 2025, darihttps://www.wordstream.com/blog/tiktok-algorithm
26. World Health Organisation, Regional Office for Europe. (2024, 25 September). Teens, screens and mental health. Diakses 29 Desember 2025, dari https://www.who.int/europe/news/item/25-09-2024-teens–screens-and-mental-health
27. arXiv. (2025). Moving beyond parental control toward community-based approaches to adolescent online safety (arXiv:2503.22995). Diakses 29 Desember 2025, darihttps://arxiv.org/html/2503.22995v1





